“Sekiranya pemimpin tidak dapat berlaku adil, maka rakyat akan saling tikam sesamanya”
Kalimat ahli hikmah di atas jika kita tinjau lebih jauh, akan banyak benarnya. Dalam kapasitas sosial, politik seharusnya bisa menjadi alat untuk mencapai tujuan bersama. Jabatan politik harus dimanfaatkan untuk kepentingan umum yang berbasis kerakyatan, hasil yang akan diraih adalah demi meningkatkan prestis dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dalam The Act of Creation, Arthur Koestler menyebut lelucon (guyonan) adalah kebutuhan manusia. Oleh karena itu manusia selalu kreatif untuk membuat guyonan baru demi memenuhi kebutuhannya. Tak heran jika beberapa stasiun televisi menguras pikirannya untuk membuat program yang bisa memuaskan nafsu lelucon manusia, seperti Negeri Mimpi dan sejenisnya.
Kebutuhan terhadap lelucon ternyata tidak hanya diilhami oleh produser perusahaan media. Politikus pun sangat mengerti kebutuhan ini. Tak heran jika dalam beberapa kasus, politikus lebih tinggi selibritasnya dibanding selebriti itu sendiri. Penghargaan ini diraih karena mereka sering kali membuat cita rasa humor. Aneh memang, di tengah tuntutan profesionalitas yang begitu meningkat, mereka justru terampil menjadi pelawak.
Bagi rakyat, politikus saat ini hanya menjadi alat untuk memancing tertawaan. Dengan science of humor yang sarat intrik. Gerakan politikus seringkali tak tertebak. Di awal cerita bermula sebagai pemuda lugu yang alim, di bagian akhir menjadi perampok yang berhati laknat. Gebrakan cerita tersebut persis ibarat dinamika politik dewasa ini.
Politik benar benar tidak berfungsi selain sebagai hiburan yang menyesakkan dada. Jika selebriti mampu membangkitkan nalar dan daya khayal manusia untuk merasakan apa yang mereka tampilkan dalam waktu terbatas, politikus malah bisa membentuk khayalan buruk itu menjadi kenyataan. Aksen dan tipu daya politikus ternyata tidak hanya berada dalam wishfull thingking (khayalan) penikmatnya. Tanpa disadari, alur cerita itu membentang luas dalam kehidupan penikmat ulah elit politik sehari-hari.
Menjelang pilkada. Artis politik ini seolah sedang berlomba agar bisa memperoleh award (penghargaan). Dalam kapasitas partai, mereka berlomba menjadi film terbaik. Sementara bagi kader partai yang dijadikan aktor atau umpan bagi masyarakat, mereka bersaing untuk menjadi artis terbaik, paling tidak menjadi favorit dengan status sebagai pendatang baru. Tak heran jika semakin mendekati ajang pemilu, semakin banyak cerita lucu yang lahir dari artis berdasi dengan lambang beragam.
Dari Artis Menjadi Tikus
Untuk memenuhi kebutuhan terhadap lelucon, kini artis tidak hanya tampil di film-film sinema buatan produser tertentu. Artis dalam kapasitasnya menghibur (membuat guyonan) juga lahir dari rahim politik. Secara pakaian, artis golongan ke dua lebih rapi, elegan. Biasanya stelan mereka menggunakan merek tertentu berbau resmi. Kita sebut mereka artis berdasi.
Artis politik seharusnya hanya tampil dalam khayalan ibarat selebritis yang memenuhi layar kaca. Keadaan ini tidak akan mempengaruhi secara langsung life style masyarakat. Walaupun akibat dari hedonisme semakin menyebar, setidaknya masih ada penghalang. Karena pada dasarnya masyarakat sadar bahwa apa yang mereka saksikan hanya fiktif belaka.
Akan tetapi, artis politik menjelma menjadi musuh yang menyerang kepentingan masyarakat. Mereka ibarat hama tikus yang menyerang padi petani. Akhirnya artis berdasi akan berubah menjadi tikus berdasi. Sedikit demi sedikit mereka akan menggerogoti kesejahteraan masyarakat.
Ungkapan tikus berdasi yang sudah populer di masyarakat tidak terlalu berlebihan bila kita lekatkan kepada politikus dengan orientasi uang. Menyebut tikus serta merta mungkin akan membawa kita kepada serial kartun anak micky mouse. Sebuah film animasi yang erat kaitannya dengan guyonan. Kita pasti akan tertawa, ketika tikus bisa mempermainkan kucing yang notabane-nya lebih besar.
Pertarungan antara tikus kecil dengan kucing yang selalu ditimpa sial. Entah layak kita mengibaratkan kucing itu dengan rakyat biasa, lantas si mouse adalah tipe politikus kita. Mereka gemar mencari celah, banyak akal bulus dan karena produsernya yang tikus orienteed maka politikus sebagai pengarah kebijakan publik pun akan selalu menang, walau dikejar oleh kepentingan rakyat yang semakin membludak.
King Maker dan Politik Kultural
Eksekutif dalam permainan catur bisa kita ibaratkan sebaga raja. Raja sebagai king maker akan mengerahkan segala bala tentaraya untuk melindungi raja. Sebagai satu satunya kekuatan mutlak, pasukan pengawal raja semisal benteng akan siap di-roker demi keselamatan raja. Dalam kasus ini, pejabat publik termasuk di dalamnya legeslatif harus bisa melindungi keselamatan raja. Karena selama raja masih berkuasa, mereka juga akan bebas bermain. Seandainya raja mati, maka mereka semua akan diganti dengan pemain baru. Hilanglah kesempatan memetik untung.
Sementara rakyat hanya umpan pancingan yang kita asumsikan sebagai pion. Apabila dibutuhkan atau ada pengambil kebijakan yang sudah mati, pion akan dikorbankan untuk membentuknya kembali. Tentu harus sesuai dengan ideologi raja. Siklus ini terus berputar bahkan sudah mendarah daging dalam sistem politik catur dan diterapkan dalam perpolitikan kita.
Dewasa ini, perlu ada etika politik kultural yang berbasis kerakyatan. Tidak hanya demi kepentingan raja (penguasa). Fukuyama dalam Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity mengatakan betapa pentingnya faktor budaya dalam etika politik. Rakyat harus bisa berasosiasi dengan pemerintah. Tidak hanya dijadikan umpan. Selain memegang peranan civic engagement yang didasari rasa saling percaya, rakyat juga memilik peran political engagement yang memiliki fungsi tersendiri dalam kebijakan politik.
Kultur politik yang sehat hanya akan lahir jika pemimpin bisa berlaku adil. seimbang dalam memberi porsi dan kepercayaan kepada rakyat. Sendainya tidak, rakyat bukan saja akan hilang nilai kepercayaan (trust) kepada pemimpin, bahkan mereka akan saling memakan sesamanya. Menikam hak orang lain dengan politik hewani. Akhirnya manusia berubah dari zoon politicon (saling bekerjasama) menjadi zoo politicon (kebun binatang politik). Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Kita lihat saja.[]
Penulis Zahrul Bawady M Daud; Alumni Dayah Bustanul Ulum Langsa, Mahasiswa Al-Azhar Kairo.
Sumber : Kolom Analisis Harian Aceh, 31 Mai 2011
