Apa Beda Alex dengan Alu Mudek? * Kok Liza Berjenggot ya?*
Alex Part 2
Aleksandria selalu bisa menghadirkan suasana baru bagi kita. Kota yang dulu pernah terkenal dengan Mercusuar dan Emporium yang menandakan bahwa ia adalah salah satu pusat perdagangan berskala dunia, konon lagi katanya di sana pernah berkumpul para rahib untuk menerjemahkan kitab suci mereka dari bahasa Ibrani menjadi bahasa Yunani. Aleksandria memiliki hampir seluruh syarat menjadi kota maju. Termasuk tatanan kota yang jauh berbeda dengan kota kota lain di Mesir.
Erathosthenes adalah salah seorang pemikir yang pernah bernaung di bawah perpustakaan Aleksandria; yang sudah banyak kita bahas di part 1 cerita ini. Kemampuannya mengukur jarak astronomis dengan menggunakan dasar skala merupakan penemuan baru di kala itu. Ia berhasil memadukan metode tradisional dan modern ke dalam rumusan barunya itu melalui banyangan tongkat dan ilmu trigonometri.
Aristarchus; orang yang diakui pernah menggaungkan bahwa matahari adalah pusat peredaran planet dua abad sebelum masehi, Strabo sang ahli geografi, Hipparchus yang pernah mulai mengkaji rasi bintang, Herophilus; ahli faal yang pertama kali membantah pendapat yang menyebut jantung sebagai pusat kecerdasan manusia, ia mendefinisikan bahwa otak lah sebagai pusat kecerdasan manusia, Heron, pribumi Aleksandria yang menemukan roda bergigi dan mesin uap, dua millennium sebelum mesin uap modern diproduksi, ia juga pengarang pertama risalah robotika, termasuk juga Archimedes pernah menerangkan penemuannya di tempat ini. Selain itu masih banyak nama penemu dan inovator lain yang pernah dibentuk oleh pusat pengetahuan melalui pustaka klasik ini.
Namun karena berbagai keadaan, terutama setelah invasi oleh Julius Cesar 48 SM. terjadilah keruntuhan peradaban di kota ini. Hanya bukti bukti yang masih tersisa yang menjadi saksi kedigdayaan kota Aleksandria masa dahulu kala. Penghancuran dan pemusnahan masal yang pernah terjadi masa Marcus Aurlieus dan Patriakh phiolius adalah sebuah malapetaka besar dalam hal kebangkitan ilmu pengetahuan. Bahkan Seneca, salah seorang filosof Romawi memperkiran lebih 40.000 buku dalam berbagai cabang pengetahuan yang pernah bersemanyam di kota ini namun musnah oleh akal picik manusia.
Hal serupa menerpa Kaisar Shih Chin Huang Ti yang pernah menyuruh membakar kitab kitab klasik ilmuan China. Kisah akumulasi otoritas Nazi di Jerman juga pernah melakukan hal yang sama. Namun yang sangat menyakitkan, di pustaka Aleksandria contohnya, buku buku Adam Smith semisal Wealth of Nation, buku buku weber dan Marks, Principia yang merupakan magnum opusnya Newton pun tak pernah dibaca. Terlepas dari kontroversi para penulis besar itu, setidaknya bisa menjadi perbandingan bagi kita dan yang perlu kita ketahui, mereka telah pernah mencetak sejarah, mengukir nama mereka sebagai ilmuan. Namun kita tidak boleh terlepas dari panduan panduan keilmuan dari pemikir kita yang tentu harus menjadi prioritas.
Di depan pustaka Aleksandria yang pernah menjadi perpustakaan terbesar di dunia, bukti bukti kejayaan peradaban itu masih tersisa, namun dalam jumlah yang sangat minim. Miris.
Perjalanan ke Aleksandria pekan lalu tak terasa membosankan. Tiga jam jarak tempuh berlalu begitu saja. Ditemani kacang dan coca cola, mobil yang kami tumpangi berjalan mulus melewati 200 KM lebih jalan tol Aleksandria. Sedihnya, satu kaleng Coca cola yang sudah siap saya masukkan ke pustaka Aleksandria ternyata di tahan petugas. Seperti yang pernah saya sebutkan pada edisi sebelumnya, Aleksandria menyajikan suasana peraturan yang berbeda. Termasuk ketertiban ruangan dan traffic light yang teratur, walau tak berteman polisi.
Selepas dari pustaka Aleksandria, kami menuju Muntazah, salah satu objek wisata yang sangat masyhur di Aleksandria. Tujuan kami selain rekreasi ke tempat ini adalah untuk menunaikan hajat perut yang tak tertahan lagi.
Mukhlis yang duduk sebagai CO Asisstant supir di Avanza 105 sudah terlihat pucat pasi karena kelaparan. Ekstrimnya lagi, dia mengajak agar makan siang di pantai laut meditarania Aleksandria saja, agar lebih ekspres. Tetapi kami tetap keukeuh, Muntazah sudah tergaris, tidak bisa diganggu gugat, apalagi oleh seorang yang datang dari Alue Mudek, pedalaman Aceh Utara, yang tak terbayang jauhnya dari Aleksandria
Walaupun dia pernah bilang kalo kampungya itu pernah menjadi pusat peradaban di dunia. Kami mengiyakan saja. Toh saya sendiri yang pernah mendaki (karena letak kampunya di pegunungan) Alu Mudek melihat dengan jelas bahwa bangunan rumah panggung dengan bahan kayu di sana memang sudah tua-tua, bahkan ada yang hampir tumbang tak sanggup menahan beban penghuninya yang terus bertambah. Beberapa sudut bahkan terlihat kayu sudah dipenuhi oleh rayap. Benar benar kuno. Mungkin ini maksud Mukhlis yang menyebut kampungnya sebagai pusat peradaban kuno, tetapi kejadiannya sekarang, bukan dahulu kala. Hehe
Memang baru baru ini Alu Mudek diproyeksikan akan maju. Sudah dibangun jalan ke arah sana (wah berarti dulu ngak ada jalan donk.hehe). sinyal pun sudah ada sedikit demi sedikit. Paling tidak, untuk menunggu sebuah sms, tidak usah turun ke Krueng Mane yang berjarak 46 KM. kan ribet. Setidaknya sekarang cukup menggangtung HP di salah satu tiang belakarang rumah yang agak tinggi, maka serpihan signal HP dari PT KKA yang bergerak dalam bidang kertas akan berhasil diraih, walaupun Cuma naik satu signal, hal ini dianggap nikmat yang luar biasa oleh masyarakat setempat. Konon di tahun 2010 ini hampir semua daerah punya signal penuh.
Menilik Alex sebagai pusat perdagangan, maka Alu Mudek pun tergolong sebagai pusat perekonomian penduduk dengan jumlah total 39 kepala keluarga itu. Dalam hal ini, keluarga Mukhlis tergolong sebagai inisiator perekonomian kawasan di daerah ini. Ia menguasai empat dari tujuh kedai yang terdapat di Alu Mudek. Keren kan…ngak jauh beda deh ma Alex, kata Mukhlis sambil membusungkan dada yang memang sudah busung.hehe
Wah ngak asyik banget, sedang ngebahas Alex kok lari ke Alu Mudek, padahal ngak ada kaitan sama sekali.
Tak jauh, sekitar 15 menit kami sudah sampai ke Sheraton Hotel, salah satu hotel terbesar dan strategis yang ada di Alex selain Four Season Hotel. Four Season ini kata teman saya artinya empat musim. Mungkin aja suasana hotel itu bisa menyesuaikan diri dengan musim musim yang ada di Mesir –panas, semi, dingin dan gugur.- tetapi itu masih kemungkinan, karena saya pun belum pernah masuk. Tapi yang pasti, di hotel itu musim paling sering dan paling banyak dapat saya jamin adalah musim tidur. Karena buat apa orang sewa hotel kalo bukan untuk tidur.:) saya harap hadirin dan hadirat yang membaca dapat setuju dengan pendapat ini.
Dari Sheraton, kami berbelok ke kanan. Di sampingnya ada Fathalla Gamila Mall. Di penghujung mall itu kami mengambil jalur kiri, kami harus kembali ke arah Sheraton karena gerbang Muntazah ada berseberangan dengan hotel tersebut.
Di pintu gerbang, sudah bersiap tiga polisi dan petugas tiket. Kami berjumlah 16 orang. Tetapi harus membayar harga 18 orang. Karena dua mobil kami dianggap representative dari dua orang. Ada ada saja. Karena memang sudah tertulis di peraturan, ya kami turuti saja. Lagian demontrasi dari cacing –cacing di perut harus cepat kami layani daripada harus meladeni perkelahian mulut dengan mereka.
Muntazah adalah komplek taman kota yang dikelilingi oleh laut. Setidaknya itulah defenisi yang dapat saya berikan ketika tiba di tempat ini. Semula kami hendak makan di bagian kiri Muntazah, menurut Van “Fikar” Tom, tempat ini menyediakan pohon “Jambe Kleng,” salah satu buah buahan yang sangat lezat bila dinikmati dengan meulisan dan capli cina, tapi dengan syarat beumasen bacut.
Naas, boh jambe kleng sedang tidak musimnya, begitulah fatwa Vantom yang telah memperoleh gelar mujtahid muthlaq dalam bidang masak-memasak. Kami memilih berpindah tempat, lagian daerah ini terkesan gersang.
Dari bundaran kami berputar ke arah kanan, atas usulan forum, kami menuju masjid yang terletak di sudut barat. Selesai menunaikan shalat ashar jamak qashar dengan shalat dhuhur. Kami kembali mencari tempat makan.
Atas usulan tim avanza 107, mobil yang saya tumpangi kami menuju bagian rimbun yang dipenuhi pohon kurma yang sedang berbuah muda. Detik-detik ini kami merasa benar benar sedang berada di dua benua sekaligus. Hijaunya seperti kampung halaman, ditambah kurma yang merupakan simbol jazirah Arab. Sangat drasmatis.
Di depan McDonalds mobil diparkir. Menu hasil kreativitas Cek Lis (Mukhlis AM = Alu Mudek) dan Iqbal Yakni sudah kami siapkan sedari tadi. Tidak perlu komando untuk hajatan ini. Karena semua paham, perut perlu makan. Bahkan yang kemudian terjadi adalah adegan rebut rebutan. Cek Lis dan Iqbal yang menguasi plasti makanan mendapat kesempatan lebih. Mereka bisa memilih ayam dan nasi terlebih dahulu. Kalau saya tak salah menerka, porsi nasi yang mereka ambil adalah jatah untuk nasi tambah, ukurannya dua setengah kali lipat porsi biasa. Kami maklum saja. Karena memang mereka berdua sedari tadi paling ribut ngajak makan.
Di bawah kebun kurma bersebelahan dengan McDonadls kami duduk melingkar, kecuali Farhan yang memisahkan diri. Entah takut nasi dan ikannya dibajak oleh ammu Najib. Staf Ahli Transportasi avanza 105. Karena kita tau sendiri porsi makan sopir itu bagaimana, lagian mungkin Farhan sudah sangat berpengalaman, apalagi tinggal satu rumah.hehe
Saya bertanya sama Hafiz, sudah cuci tangan belum? Sudah. Tadi di Mesjid katanya sambil menyuapkan nasi ke mulut. Owh.. sahut saya. Sudah baca basmallah belum? Buru buru Hafiz melafazkan “bismillahirrahmanirrahim,” padahal itu sudah suapan ke delapan. Tapi katanya lagi, sejak suapan pertama dia sudah meniatkannya, tapi dalam hati saja. Kami pun mengangguk tanda mengerti, daripada telat nambah nasi karena kami liat, konco konco Avanza 105 sangat bersemangat dan lahap, sayang kalo nasi habis diembat mereka semua. Padahal bayarnya sama. Ya kan, sodara-sodara?
Menjelang magrib, kami menuju pantai Muntazah yang masih terletak satu komplek. Tak berselang lama, ternyata azan maghrib sudah berkumandang. Kami sepakat berniat untuk jamak taakhir menuju isya. Kesempatan di tepi pantai yang dihiasi dengan jembatan ini tak kali lewatkan untuk moto moto, walaupun akhirnya saya cuma jadi tukang foto, ya ikhlas saja. Sebab difoto pun saya ngak bakalan kurus. Jadi nyante aja. (ngak nyambung kan? Maklum nulisnya lagi lapar neh!)
Di sana, berbagai gaya diekspresikan. Bahkan Ammu Najib sampai bela-belain harus naek ke atas tiang jembatan supaya kenak foto. Padahal menurut saya lagi, ngak usah lah macam itu, toh kan bisa diadobe, zaman udah canggih bung. Tapi saya tahu pasti, foto langsung pasti lebih berkesan, selain juga ammu Najib mungkin ngak pande dalam bagian adobe mengadobe. (peace ya ammu Najib. Oh ya, beliau ini pernah dinobatkan menjadi orang tua KMA lho, kalo ngak salah pas itu ada rapat panitia pernikahan salah satu anggota KMA, padahal ammu Najib aja belom nikah, tapi katanya seh bentar lagi, ayo siapa yang mau daftar, terbatas untuk satu orang. Ya udah deh, Kita doakan aja dapat jodoh terbaik ya. Amin)
Hampir Isya, kami baru beranjak dari pusat olahraga wisata air di Muntazah. Suasana disco sangat menyentak, membuat jantung kami berdegup kencang. Wah, rupanya begini suasana malam di muntazah, terutama di bagian ujung kiri jembatan yang terdapat discotik. Masih di dalam komplek, kami menyinggahi istana raja Faruk, raja Mesir terakhir yang dikudeta secara militer oleh Gamal Abdul Nasher.
Istana sangat megah. Tapi sayang sudah malam. Kami tak bisa begitu menikmati. Tetapi lampu yang temaram semakin menambah syahdu suasana istana yang dipadukan dengan desiran ombak dari tepi pantai. Arsitektur istana ini sangat megah, masing masing sudut dihiasi dengan menara. Benarlah kata orang, kalo Mesir ini Ibu dari segala peradaban.
Bang Lutfi sudah tidak sabar ingin pulang. Sepertinya sudah ngantuk. Sorot matanya tinggal 7 watt saja. Tidak cukup pun untuk mencari kantong celana di dalam gelap. Keluar dari Muntazah, kami menuju Mandarah yang terkenal sebagai pusat pemukiman penduduk.
Di sana, kami mencari rumah yang telah kami booking sebagai tempat peristirahatan malam ini. Setelah menelpon dan diberi petunjuk alamat, kami menuju ke arah pasar umum Mandarah. Di sana telah menunggu salah satu petugas rumah yang berada di bawah PMRAM (organisasi persekutuan masyarakat Melayu di Mesir). Tak berapa lama, orang yang kami tunggu berhasil digaet oleh Bg Luthfi, walaupun beliau agak kecewa, karena menurut informasi dari Hafiz, orang yang akan ditemui adalah Liza. Sambil keheranan, bg Luthfi bertanya, wah liza ini kok berjenggot ya? Serentak kami semua tertawa.
Bagaimana perjalanan kami selanjutnya, apa saja yang terjadi malam itu dan bagaimana kejadian esok hari. Hanya akan ada di part 3 (akhir) cerita ini. Simak saja kelanjutannya, akan hadir dalam waktu dekat di bioskop bioskop bergaransi di kota anda.
KMA Pasca Bersih bersih dan kedatangan Kulkas Baru.
0 komentar:
Poskan Komentar