Siapa Saya

Foto Saya
Alumni Madrasah Ulumul Quran, Angkatan 21 (2007), Mahasiswa Al-Azhar Universiti. Kunjungi juga http://zahrulaneukaceh.multiply.com/

Minggu, 08 Mei 2011

Bunda, Mungkinkah Asamu dan Citaku Bersatu

Bunda, Biarkan ku meluapkan setitik beban di dalam warqah ini.

Ku tak tahu kapan rasa itu hadir. kedatangannya terlalu tiba-tiba. Menyentak. Aku bahkan tak sempat menyambutnya di gerbang relung hatiku.

Tapi rasa itu kian berbekas. Membentuk asa beribu simphony. Bila kalian pernah berjalan pada sebuah bukit, dikelilingi cemara dan auntum sejuta warna, plus semerbak yang tak pernah bosan menyebar keharuman, maka asa ini lebih indah dari pandangan nyata itu. Lebih mengawang, seperti nirwana dikelilingi nikmat tak berbatas. Amboii..

Rasa itu adalah rasa bersalah. Asa itu adalah ingin cepat dapat bertemu kembali.

Bunda, Aku bukan anak terbaikmu. Baru semalam aku diperkenankan oleh nafsuku untuk mendengar suaramu yang kian melemah. Mungkin suara putus asa, telah melahirkan seorang putra tak berguna.

Dengan sedikit terisak, engkau masih bisa mengungkapkan kegundahan, risau akan kesehatanku. Padahal di saat yang sama, belum tentu aku mengingatmu, mengingat nasehatmu; orang yang telah memapahku sejak aku belum mengenal

diriku sendiri.

Bunda! ketika engkau meminta padaku untuk selalu mendoakanmu. Tahukan engkau aku hanya menjawab acuh, seolah tak ada beban dan tanggung jawab dalam diri ini. Jawaban “iya” kala itu mungkin hanya sebagai pemanis bibir saja. Bibir yang kini hitam dengan kepulan dusta, bibir yang pekat karena menggunjing dan ghibah: padahal dulu Bunda pernah berkata, “ Nabi kita mengharamkan perbuatan-perbuatan itu.”

Di sini aku masih bisa berleha-leha. Padahal Bunda disana sedang berjuang melawan usia. Rambutmu kini sudah berubah putih. Pernah terlintas di benakku, dunia kini semakin canggih, kenapa tidak bunda hitamkan saja rambut itu. Toh di kota kita salon-salon banyak menjamur, menjual produk perawatan yang kata Bunda bertentangan dengan budaya kita orang timur.

Tapi apa jawaban Bunda, “ Bunda tak dapat menolak kodrat usia, Bunda tak sekuat dulu yang sanggup memapahmu. Untuk berjalan saja kaki bunda sudah sangat kaku. Biarlah uang itu bunda pakai untuk biaya sekolahmu, nun jauh di negeri seribu menara sana.”

Aku tercekat. Air ludah terhenti di ujung tenggorokan. Tak kusangka cintamu sedemikian besar. Padahal tahukah bunda, Anakmu di sini nyaris menjadi sampah bangsa. Kalau bukan saja karena doa tak pernah henti yang Bunda panjatkan di penghujung malam, mungkin anakmu kini telah tiada, kecuali jasad hidup yang lebih menggenaskan daripada kulit kambing yang dihinggapi lalat-lalat kelaparan.

Aku masih ingat, ketika bunda berjuang melawan maut. Selepas kecelakaan bulan desember tahun 1996. Dokter di rumah sakit itu telah pasrah, mengangkat tangan tanda tak mampu. Tubuhmu berlumuran darah. Aku; anak terkecilmu dipeluk erat saudara-saudara kita. Aku tak mengerti, mengapa mereka bersedih. Mengapa mereka menangis, walaupun kurasa, pelukan mereka itu hambar. Ku ingin memelukmu bunda. Tapi mereka menghalangi. Ku katakan bahwa aku tak takut pada darah yang membanjiri tubuhmu. Tapi mereka mengatakan, “Bunda sedang tidak sanggup memelukku sekarang.”

Aku kecewa, apakah Bunda sudah lupa kepadaku. Apakah Bunda tidak sayang lagi padaku. Apakah aku terlalu nakal di hadapan Bunda. Tak layakkkah tangan Bunda melingkai tubuhku lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut begitu saja di benak kepala kecilku kala itu.

Kulihat Ayah sempat bingung. Bukan karena mobil kita yang hancur karena musibah itu. Tapi memikirkan nasib kami, anak-anakmu. Ayah memelukku erat. Walau kulihat darah juga membasahi tubuhnya. Tapi kata Dokter, luka Ayah tak separah Bunda.

Sirine ambulan meraung di tengah keramaian. Aku bersama Ayah dan beberapa orang Dokter hanya bisa menatap bisu. Ku yakin Ayah sedang berusaha tegar, ketika menasehatiku untuk terus melafalkan zikir – padahal kala itu aku tak tau manfaatnya.- Sebuah tabung yang bersambung dengan selang-selang kecil melilit tubuhmu, alat bantu pernafasan terpasang rapat. Ku rasa Alat itu telah merengut Bundaku. Padahal aku ingin seperi selang-selang itu yang bisa memeluk erat Bunda.

Seluruh kepalamu dibalut perban. Berbagai alat bantu dipasang. Kepala Bunda harus dijahit 56 jahitan. Duh, betapa menderitanya Bunda, kenapa bukan aku saja yang merasakannya. Bunda, bagikan rasa sakit itu padaku, agar mata Bunda dapat terbuka kembali, agar Bunda dapat menasehatiku ketika aku terlambat pulang karena lalai bermain bola.

Alhamdulillah, Bunda masih bersama kami. Walaupun harus sering check up dan kontrol kesehatan ke luar daerah, Bunda kini dapat tersenyum, walau masih dibalut nyeri. Kata Ayah, Uang tak bernilai ketika itu, asalkan Bunda bisa kembali seperti sedia kala.

Delapan tahun selepas peristiwa naas itu. Aku Sudah lupa bahwa aku pernah hampir kehilangan Bunda. Sedang disana, Bunda divonis oleh Dokter dengan berbagai penyakit. Ingin aku membentak Dokter-dokter yang kuanggap sialan itu. Dimana mereka belajar sampai berani menghukum Bunda dengan penyakit itu. Diabetes, rematik dan asam urat kini menjadi teman Bunda, Komplikasi kata mereka, padahal sakit Bunda yang dulu saja belum sembuh total: karena Bunda masih sering bercerita tentang sakit di kepala yang seakan tak pernah berhenti. Teman yang mengerikan. Teman yang terus menggerogoti tubuh ringkih Bunda yang semakin tua.

Kini, benua dan bentangan samudra telah memisahkan aku dan Bunda. Aku yakin, berminggu-minggu Bunda pernah diopname di kampung halaman sana, tapi aku tak pernah bertanya. Lagian Bunda merahasiakan kepadaku. Kata abang dan kakakku, Bunda tak mau membuat aku gelisah dan sedih. Tapi berbanding terbalik denganmu, Bunda! Pernah engkau tak henti-hentinya dibalut duka dan rindu, ketika aku hanya diserang demam yang biasa saja.

Bunda, Ku yakin. Hasrat suci seorang Ibu sangat mendambakan kehadiranku, anak terakhirmu. Tapi aku menodai niat sucimu, aku berubah menjadi penantangmu. Ketika Engkau menasehatiku dengan nada tinggi agar tak bermain di luar rumah terlalu malam, aku menganggap Bunda tidak bijaksana, tidak bisa membedakan aku yang sudah beranjak remaja. Padahal aku tahu, Nada itu berasal dari rasa cinta sucimu padaku.

Ketika Bunda terus bertanya kabar tentangku, ku anggap Bunda terlalu was-was dan tidak percaya padaku. Bunda terlalu perihatin. Padahal aku sudah mulai besar. Tapi ternyata anggapan ini hanya karena aku besar kepala.

Bunda! Entah sudah berapa hari raya kita tak berkumpul bersama. Demikian juga Ayah serta Kakak-Abangku. Ku rasa, dari sudut sanubari yang terdalam, asa itu kian membuncah. Hampir saja mendidih. Tinggal menunggu semburan lahar-laharnya. Semoga tidak bernasib sama dengan letusan gunung merapi yang memakan korban.

Di sana, engkau tak pernah melupakanku. Mungkin saja engkau sengaja tidak mau membeli masakan yang lezat. Bukan karena tidak mau, tetapi teringat diriku. Apakah aku bisa merasakan nikmat nikmat itu. Padahal aku disini berfoya-foya,

keluar masuk mall-mall ternama. Bahkan tak sempat mengingat uang itu adalah cucuran keiringatmu.

Ayah sempat mengingatkanmu, agar Engkau tak terlalu risau dengan keadaanku. Tapi ku yakin, Ayah juga memiliki perasaan yang sama. Hanya kalian sedang saling menguatkan. Agar kuat jika mungkin mempunyai anak tak berbakti sepertiku.

Bunda, rasa itu kian menindih. Diliputi asa untuk bisa bersama lagi. Semoga Engkau masih ada, ketika asa itu terwujud kelak. Kemana ku bawa asa ini jika Engkau nanti telah tiada.

Teruntuk Bundaku, dan Bunda-Bunda di seluruh jagad raya. Semoga hasratmu berwujud adanya.

Allahumma igfir lanaa dzunuubanaa wa liwaalidaina wa irham huma kama rabbayaanaa shagiira

KMA, 19 November 2010

Sore penuh makna. Semoga menghilangkan bad mood yang melanda.

15.40 CLT.

0 komentar:

Poskan Komentar