Menguak Sekularisme
Opini - 8 March 2011 |
Oleh Zahrul Bawady M Daud –
Sekularisme kembali menjadi santapan intelektual muslim untuk memisahkan fungsi agama dalam negara. Entah lupa atau pura-pura tidak tahu, semangat masyarakat madani yang dibawa oleh nabi Muhammad justru lahir dari mesjid yang notabene sebagai tempat peribadatan.
Banyak intelektual seperti tak paham prinsip mana yang menjadi pijakan dasar dari perkembangan elaborasi dari sekularisme, pluralisme, demokrasi dan HAM. Murnikah dari Islam, atau hanya sempalan yang dibuat buat Thomas Jefferson yang “kebetulan” tampak mengadopsi maqashid syar’iyah dalam Islam.
Interpretasi Jonh Locke yang dievolusi oleh Jefferson terkait maqashid syar’iyah perlu dikaji ulang. bagaimana konsep yang murni ajaran Islam bisa begitu jauh melenceng. Hifdz al din yang disebutkan oleh Alghazali untuk membela Islam dimanfaatkan untuk mengobrak-abrik Islam melalui semangat pluralisme.
Pertanyaan yang mendasar, apakah benar Barat maju karena semangat demokrasi yang mereka usung. Pertanyaan ini begitu penting, mengingat beberapa konsep demokrasi justru tak berjalan di Barat. Beberapa pakar terang terangan menganggap Barat jauh dari prinsip demokrasi. Kepemimpinan di Barat pun penuh konspirasi. Kemajuan Barat yang terpampang hari ini tak lebih hanya kulit saja dibantu dengan profesionalitas personal.
Risyad Hasan Khalil dalam qadhaya fiqhiyah mu’asharah dengan jelas menyebut bahwa Islam lebih demokratis. Kedaulatan ada di tangan rakyat dalam arti pemimpin bekerja (khadim) untuk rakyat, kebebasan, perkara sosial dan peningkatan taraf hidup bermasyarakat.
Sekularisme dalam Timbangan
Upaya pemisahan agama dari kehidupan sosial masyarakat dan politik adalah bentuk kesalehan individu yang tak dibarengi kesalehan lingkungan. Sebagai ajaran yang sempurna, Islam memadukan kesalehan diri dan kesalehan sosial (shalih wa mushlih). Hal ini tercermin dari firman Allah Swt., “Sesungguhnya shalat mencegah manusia dari perbuatan mungkar.”
Dr. Safar Abdurrahman dalam al’ilmaniyah menulis bahwa kegagalan gereja dalam menjadi pioner peradaban Barat mengakibatkan mengguritanya paham sekularisme. Doktrin gereja yang bertentangan dengan sifat kemanusiaan membuat intelektual Barat gerah. Karen Amstrong bahkan menyebut inquisisi adalah instrumen teror paling jahat dalam sejarah gereja.
Pantas jika kala itu Barat dikukuhkan sebagai the dark ages. Theokrasi gereja merambat ke seluruh lini kehidupan. Marvin Perry (1997) secara jujur mengakui bahwa abad pertengahan didominasi oleh gereja sebagai institusi sentral. Otoritas gereja yang tidak berimbang diperparah dengan fakta yang bertentangan dengan doktrin gereja mengakibatkan pamor agamawan runtuh. Akhirnya muncullah babak baru dalam kehidupan Barat yang tak lagi kristen. Barat mengawali babak baru reinaissance. Sejak itu pula Barat mulai menerapkan prinsip liberal-sekular.
Faktor trauma terhadap teologis dan teks bible membuat Barat mencari jalan baru membentuk sebuah peradaban. Pendapat ini kemudian melahirkan pameo bahwa Barat maju karena meninggalkan agama mereka. Bernadr Lewis (What Went Wrong) menyebut sentralisasi kebijakan gereja melahirkan beragam skisma yang mengakibatkan keruntuhan gereja di kemudian hari. Pada babak selanjutnya dibentuklah paradigma pemisahan urusan Tuhan dan raja.
Fenomena di atas membuat Thomas Jafferson dan James Madison, founding father Amerika dengan tegas mengungkapkan bahwa harus ada dinding antara agama dan negara, “no man has the power to let another prescribe his faith.” Madison menegaskan tujuannya untuk melindungi agama dari otoritas politik. Jelas bahwa Barat benar benar trauma, mereka tidak menemukan kesejajaran antara negara dengan doktrin kristen. Bible dan gerejawan tidak mampu berakselarisasi dengan tuntutan zaman yang semakin maju.
Wacana Samuel P Hungtintong dengan The Clash Of Civilization sangat ampuh membuat orang lari dari agama. Tapi sayang, fakta saat ini membuktikan bahwa relegiutas justru semakin meningkat di Barat. Simbol Islam mulai diusung dengan lebih berani, gerakan Islamisasi terus menyebar. Benturan peradaban antara Barat dan Timur yang dipersepsikan sebagai Islam mulai runtuh. Hal ini membuat Barat risih dan” kebakaran jenggot.” Tak heran jika kini mereka mulai menyuarakan sekularisasi dan pluralisme dari tubuh Islam. Mereka amat yakin musuh dalam selimut lebih berbahaya daripada musuh yang membawa pedang.
Kesadaran gagalnya gereja dalam memimpin Barat akhirnya mempengaruhi Islam. Selain propaganda orientalis, cendekiawan Islam juga menolak adanya Islamic state. Padahal fakta sejarah telah membuktikan bahwa kolaborasi daulah (negara) dan agama melahirkan puncak keemasan. Pemerintahan Islam yang maju dipegang oleh pribadi pemimpin plus agamawan. Berbanding terbalik dengan fakta yang dialami oleh Barat dengan gerejanya.
Di sini, penulis tidak perlu menyebutkan ulama dan cendekia yang menolak tegas sekularisme. Mereka adalah pewaris nabi yang turun temurun mempertahankan kedigdayaan pemahaman Islam. Mereka memiliki konsep yang mumpuni, namun terus tertindas oleh otoritas penguasa yang zalim, penguasa yang takut kekuasaannya akan berkurang. Mereka sadar betul jika agama disandingkan dengan negara, mereka tidak bebas berperilaku sewenang-wenang.
Pantaslah kita mengaca pada sebuah hadis nabi, “Sungguh kalian -ummat nabi Muhammad saw.- akan mengikuti musuh-musuh kalian sejengkal demi sejengkal, walaupun sekiranya mereka bersenggama dengan perempuan di tengah jalanan terik. Sungguh kalian akan mengerjakannya pula.” (HR. Muslim). Maka ada baiknya jika kita kembali mendiagnosa penyakit yang diderita oleh umat Islam hari ini, apa pososi kita di hadapan Al Quran dan Hadis. Tak salah jika kita mengambil sesuatu yang baru dengan syarat ashlah (lebih baik). Kalau ada obat yang lebih baik, mengapa mencari penyakit?
*Penulis Mahasiswa Al Azhar-Kairo, Staff Studi Informasi Alam Islami
Sumber : Harian Aceh
0 komentar:
Poskan Komentar