Milad Kemanusiaan
Zahrul Bawady M Daud - Opini
14 abad silam, di semenanjung Arab yang gersang, lahirlah seorang manusia teristimewa, dari keluarga yang luhur nan terpandang. Seorang manusia yang kelak akan terus dikenang oleh sejarah. Manusia yang sempurna lagi menyempurnakan dalam sifat nubuwah (kenabian) dan kemanusian.
Lahirnya Nabi Muhammad saw merupakan babak baru dalam jejak sosio-historis bangsa Arab. Setelah mengalami kekosongan (fatrah) dengan ajaran samawi sebelumnya, kedatangan Nabi Muhammad merupakan cahaya bagi gelapnya kehidupan masyarakat kala itu. Ego kesukuan, kedudukan dan popularitas merupakan penyakit yang paling banyak menjangkiti moral masyarakat kala itu. Peperangan antar suku, perebutan kekuasaan dan etika buruk lainnya dipertontonkan untuk mempertahankan eksistensi mereka.
Nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam menjalin hubungan sesama lenyap begitu saja. Hal ini mungkin timbul akibat corak kehidupan bangsa Arab yang memang diajarkan untuk keras--mengingat kehidupan sahara dan ciri suku badui--sebelum timbulnya peradaban (hadhary)-mereka terbiasa melakukan apa saja untuk mempertahankan diri mereka, walaupun tidak sejalan dengan prinsip kemanusiaan.
Dalam masa dekadensi moral dan krisis multidimensi inilah lahir Nabi Muhammad. Seorang utusan yang telah Allah swt siapkan untuk umat terbaik. Seorang utusan yang melepas sekat egosentris. Penghulu para nabi yang menyadarkan manusia akan keistimewaan yang melekat pada dirinya, sebagai khalifah Allah. (QS. At Tin:4).
Nabi Muhammad adalah utusan yang menyempurnakan kepribadian manusia menuju sifat kemanusiannya, kontradiksi dengan “life style” masyarakat Makkah ketika itu. “Sesunguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.” Landasan ini menjadi kunci utama dalam pembentukan masyarakat madani kemudian hari. Maka tidak heran, seorang ulama sufi kenamaan pernah mengungkapkan, “sekiranya tidak ada Muhammad bin Abdullah, maka kita akan berada di dalam neraka (hawiyah).”
Pembenahan akhlak merupakan pondasi paling awal yang berjalan seiring dengan penanaman akidah Islam. Moralitas adalah kunci keberhasilan suatu peradaban. Peradaban tanpa didukung oleh tingkah laku yang luhur hanya akan melahirkan kulit bagus yang berisi busuk.
Murtadha Muthahari menyebutkan, akhlak adalah tuntunan terkait hal-hal yang layak disandang oleh manusia dilihat dari budi pekerti dan kacamata spritual. Oleh karena itu, kebaikan dan keburukan itu berlandaskan kepada argumen teks dalam agama. Menyamakan standard kebaikan antara teks agama dan logika sempit adalah keliru.
Kelahiran NMuhammad adalah salah satu kekuatan profetik (pencerahan) dan pembebasan bagi umat manusia dari kungkungan “jahiliyah.” Kekuatan ini berfungsi untuk menyadarkan kembali fungsi kekhalifan manusia dibandingkan ciptaan lain. Selain itu, kesadaran akan sifat kemanusian ini juga penting untuk membasmi prinsip hidup hewani yang diterapkan masyarakat Arab pra-Islam.
Akhlak adalah salah satu kunci kesuksesan penyebaran Islam. Sebagai sarana transformasi sosial kultural (bil hâl), akhlak yang diterapkan oleh Nabi sukses menjaring pengikut, selain keotentikan dan kebenaran ajaran yang dibawa.
Dalam perspektif humaniora, ajaran Islam dapat diterima secara lapang dada karena berlandaskan kepada keluhuran nilai/norma yang diakui oleh nurani manusia. Prinsip prinsip Islam yang sejalan dengan fitrah manusia membuat agama ini terus bertahan dalam rentang waktu yang tak terbatas.
Pembebasan wanita dari penjara nafsu pria, membentuk tatanan perpolitikan yang sehat, membentuk etika dagang yang berwibawa, serta pembagian harta antar sesama. Itu adalah di antara sisi peribadatan yang berhubungan langsung dengan pengembangan kesejahteraan umat manusia.
Ajaran Islam itulah yang membentuk peradaban madani, mengantarkan Islam ke puncak keemasan. Mencetuskan kehidupan insani yang rabbani, di sela aktivitas sosial, ia jadikan sebagai jalur peribadatan kepada Allah. Dalam posisi ini, seorang muslim benar benar sedang dimanusiakan dalam kerangka zoon politicion-horizontal (hablum minannas) dan sisi vertikal (hablum minallah).
Tuduhan yang menyebutkan Islam tidak manusiawi, tentu salah alamat. Islam-lah yang mengangkat derajat manusia, kemudian manusia itu pula yang kembali menghinakan dirinya (QS. At Tin: 5-6). Propaganda yang mencoba melabrak prinsip humanisme dalam Islam dan membenturkannya dengan konvensi HAM adalah upaya untuk meruntuhkan sisi kemanusian itu sendiri.
Ada beberapa pandangan yang mengakibatkan lunturnya nilai kemanusian dalam Islam. Kemewahan simbol yang dibalut dalam area religi berbanding terbalik dengan realitas kehidupan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan umum. Agama hanya dipandang sebagai objek, bukan sebagai sebuah subjek untuk membentuk keseharian perilaku kita. Agama terlalu sempit, hanya dipandang sebagai kesalehan hati.
Selain itu, filosofi beragama dalam proses transformasi budaya dan pengetahuan tidak berjalan seimbang. Gejala ini timbul akibat tidak mampunya kalangan agamawan menembus kekuatan kultural dan struktural dalam tatanan bermasyarakat. Akibatnya pengaruh agama mulai dirasa kurang bahkan sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.
Dehumanisme yang muncul akibat hilangnya pengaruh agama mengakibatkan masyarakat mulai terjangkit virus krisis eksistensi. Mereka kembali dihadapkan kepada permasalahan klasik antara mana baik dan mana salah. Hal ini semakin diperparah dengan kebimbangan standard etika dan norma dalam kehidupan yang serba pragmatis. Akhrinya manusia kembali menjadi korban kanibalisasi egoisme “jahiliyah modern.”
Anggapan Arkoun, pemikir Aljazair dalam “al Fikru al Islamy” yang coba meruntuhkan nalar teologis juga perlu dicermati ulang. Pada prinsipnya, kesalehan sosial yang timbul dari seorang muslim merupakan manifestasi dari kebajikannya dalam posisi hamba. Oleh karena itu, segala tindak-tanduknya akan kembali kepada Tuhan yang Esa. (QS. Yasin: 22)
Pemikiran ini sama sekali bukan pemikiran teosentris sebagaimana anggapan Hassan Hanafi. Keutuhan nilai kemanusian tidak akan luntur dengan sikap menghamba kepada Tuhan. Penilaian dari Allah akan berjalan seimbang dengan derajat sosial seseorang. Paradigma pemikiran seperti inilah yang akan mencerminkan kesalehan individu dalam gerakan sosial antroposentris.
Patutlah sebagai bangsa Aceh kita berbangga. Masih diberikan kesempatan untuk mengecap nilai nilai humanis dalam penerapan syariat Islam. Syariat yang sejalan dengan kerukunan dan keharmonisan bermasyarakat. Sebuah aliran kemanusian yang mengantarkan kita kepada derajat hamba Allah swt yang bertakwa. Semoga.
* Mahasiswa Aceh di Al Azhar, Kairo
Sumber " Harian Serambi Indonesia, 18 Februari 2011, http://aceh.tribunnews.com/news/view/49643/milad-kemanusiaan."
0 komentar:
Poskan Komentar